Berhasil Translokasi, Gajah Liar ‘Septi’ Dipasangi GPS Collar

338

SUBULUSSALAM, THEACEH.COM – Gajah liar yang sudah lebih dari lima tahun terisolasi di perkebunan warga di Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, akhirnya berhasil ditranslokasi. Gajah betina berumur 20 tahun yang diberi nama Septi ini berhasil ditangkap menggunakan senjata bius pada Sabtu, 8 Desember 2018.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo menyebutkan, operasi untuk mengembalikan gajah liar tersebut ke habitatnya melibatkan 35 personel gabungan dari BKSDA Aceh, Dinas LHK Aceh, KPH Wilayah 6, WCS, FKL, OIC dan didukung Direktorat KKH Direktorat Jenderal KSDAE, PKSL Unsyiah, Usaid Lestari serta BCCPGLE KFW. Selain itu, operasi juga melibatkan lima ekor gajah jinak dari CRU DAS Peusangan, PKG Sare dan CRU Trumon.

Dia menyebutkan, upaya translokasi gajah liar yang sudah direncanakan sejak 17 bulan yang lalu ini sempat beberapa kali tertunda karena ketiadaan akses ke lokasi pelepasliaran di hutan Bengkung, perbatasan Subulussalam dan Aceh Selatan serta Aceh Tenggara.

Bahkan, katanya, sempat muncul ide dari sebuah LSM luar negeri untuk memindahkan menggunakan hekikopter, namun urung dilaksanakan karena persoalan teknis. Kemudian harapan muncul dengan adanya pembukaan perkebunan PT ISP yang membuat akses ke Bengkung menjadi terbuka.

Setelah serangkaian rapat teknis, urai Sapto, tim gabungan akhirnya memulai kegiatan translokasi pada Kamis 6 Desember 2018. “Perlu waktu 3 hari hingga kemudian tim berhasil menembak bius gajah Septi. Gajah yang setengah terbius selanjutnya ditarik menggunakan gajah jinak menuju truk pengangkut pada Minggu subuh, dan selanjutnya diangkut ke batas perkebunan PT. ISP dengan hutan produksi,” ujarnya.

Kemudian pada minggu tengah malam, tim kemudian menarik gajah Septi menuju Hutan Lindung Bengkung yang berjarak sekitar 20 km. Sapto menyebutkan, upaya dilakukan tengah malam hingga pagi untuk menghindari sengatan matahari yang bisa membahayakan keselamatan gajah.

“Akhirnya, pada hari Senin, 10 Desember 2018 sekira pukul 10.00, gajah sampai pada titik pelepasan yang direncanakan. Tim memasang GPS Collar untuk memonitor pergerakan Septi,” sebutnya.

Lebih lanjut, sebut Sapto, GPS Collar yang dipasang tersebut akan mengirimkan data posisi gajah ke receiver BKSDA dan PKSL Unsyiah melalui satelit. Septi diharapkan dapat bergabung dengan kelompok gajah yang ada di Bengkung yang diperkirakan ada sekitar 10 ekor. Jika Septi bisa bergabung ke kelompok gajah Bengkung, akan sangat bagus untuk meningkatkan keragaman genetis kelompok gajah ini.

Usai pelepasliaran tersebut, katanya, BKSDA Aceh bersama mitra akan menempatkan tim mitigasi yang bertugas merespon jika seandainya Septi bergerak kembali ke perkebunan.

Selain itu, didukung Forum Konservasi Leuser, KPH 6 dan PT. ISP, akan dibangun barrier berupa parit sepanjang lebih dari 5 km untuk mencegah gajah Septi kembali ke perkebunan dan pemukiman warga. “Semoga Septi betah di Bengkung, dan dapat bergabung dengan keluarga barunya,” demikian Sapto.[]