Beranda / Headline / Temuan MaTA: Kekosongan Obat di Faskes Aceh Masih Terjadi

Temuan MaTA: Kekosongan Obat di Faskes Aceh Masih Terjadi

BANDA ACEH, THEACEH.COM – Hasil pemantauan Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) di lapangan masih menemukan adanya permasalahan, terutama kekosongan obat sehingga pasien peserta BPJS harus membeli obat di luar atas resep yang diberikan dokter.

Pemantauan yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa Banda Aceh periode Juli Agustus – September 2018, MaTA menemukan 21 pasien peserta BPJS Kesehatan yang harus membeli obat di luar instalasi farmasi RSU Meuraxa karena terjadi kekosong obat.

Obat-obat yang harus dibeli di luar seperti Lotus Solostar Insulin Glargine, Berotec 100mcg, Calcium Laktat dan beberapa lainnya. Di luar itu, metode pelayanan di rumah sakit Meuraxa sudah mulai ada perbaikan, seperti pendaftaran pasien, pengambilan resep obat secara online.

Demikian salah satu temuan hasil pemantauan MaTA yang dipaparkan pada forum diskusi publik yang digelar di Banda Aceh, Kamis (11/10). Diskusi publik yang mengangkat tema Layanan Kesehatan di Era Jaminan Kesehatan (JKN) di Aceh diikuti oleh unsur Pemerintah, Rumah Sakit, LSM dan juga media dipandu oleh Yarmen Dinamika.

Koordinator Bidang Hukum dan Politik MaTA, Baihaqi, menyatakan pemerintah harus menyediakan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, alat kesehatan serta obat yang dibutuhkan masyarakat.

“Pemerintah juga memiliki mandat untuk menjamin kesediaan obat bagi masyarakat dan menyusun daftar dan harga yang dijamin dalam mekanisme asuransi kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan. Fakta di lapangan, MaTA masih menemukan adanya permasalahan, terutama kekosongan obat sehingga pasien peserta BPJS harus membeli obat diluar atas resep yang diberikan dokter,” jelas Baihaqi.

Berbeda dengan Rumah Sakit Meuraxa, meskipun MaTA belum menemukan pasien peserta BPJS Kesehatan, namun antrian yang terlalu panjang pada proses pengambilan obat di instalasi farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Zainal Abidin (RSUDZA) menjadi keluhan tersendiri bagi pasien.

Selain itu, sebutnya, MaTA juga menemukan jumlah obat yang diberikan tidak memadai, sehingga pasien harus berulang kali ke rumah sakit untuk mengambil obat. “Bisa dibayangkan kalau pasien itu berasal jauh dari Kota Banda Aceh,” tegasnya.

Idealnya, menurut Baihaqi, di Aceh tidak lagi terjadi kekosongan obat di instalasi farmasi faskes. Pasalnya, sejak tahun 2010 sampai 2018, Pemerintah Aceh selalu membayarkan premi asuransi kesehatan masyarakat yang rata-rata Rp500 milyar pertahun yang dikelola oleh BPJS Kesehatan.

“Ini artinya, selain dana dari Pemerintah Pusat, BPJS Kesehatan juga mendapat suntikan dana dari Pemerintah Aceh. Sebenarnya jadi tidak ada alasan terjadi kekosongan obat di faskes-faskes yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan,” kata Baihaqi.

Dalam siaran pers MaTA disebutkan, menanggapi hasil temuan tersebut, dr. Fahrul Rizal dari RSUDZA menyampaikan antrian panjang masih terjadi, namun terus diupayakan untuk dicarikan solusi.

Terkait dengan pasien peserta BPJS Kesehatan yang membeli obat di luar, dr. Fahrul Rizal berani menjamin bahwa tidak ada pasien peserta BPJS Kesehatan yang rawat inap dibebankan membeli obat di RSUDZA karena semua kebutuhan obat tersedia untuk pasien.

Selain itu, dalam diskusi ini dr. Fahrul Rizal juga menyampaikan bahwa beberapa sistem layanan sudah mulai ada perbaikan menggunakan sistem online.

Sementara dr. Ihsan dari RSUD Meuraxa menyampaikan, kemampuan RSUD Meuraxa untuk beli obat sangat terbatas. Kalau dulu stok obat bisa untuk 3 bulan, sedang sekarang hanya cukup untuk 1 bulan.

Terkadang, disebutkan, obat juga tidak tersedia di distributor sehingga menyebabkan kekosongan obat di RSUD Meuraxa. Walaupun begitu, dr. Ihsan menegaskan pada prinsipnya pasien tetap harus dapat obat dan dokter tidak boleh meresepkan obat kepada pasien untuk dibeli di luar.

Menanggapi seringnya terjadi kekosongan obat di faskes yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, Saiful, salah satu peserta yang hadir dalam diskusi ini menyarankan agar pemerintah Aceh membentuk BUMD yang mengelola ke-farmasian.

Menurutnya, selama ini belum ada, dengan adanya BUMD ini diharapkan menjadi solusi agar tidak lagi terjadi kekosongan obat di faskes. Bahkan jika dihitung secara kasar, akan ada anggaran Rp350 milyar lebih akan berputar di Aceh.[TA-01]

About Redaksi

TheAceh.com adalah situs berita yang mengusung tagline “Dari Aceh untuk Dunia”. Memiliki visi “Merawat Aceh” menuntut Theaceh.com menyajikan informasi yang kredibel dan informatif

Lihat juga

Persiraja Banda Aceh Perkenalkan Pemain Barunya di Car Free Day

Persiraja Banda Aceh Perkenalkan Pemain Barunya di Car Free Day

BANDA ACEH, THEACEH.COM – Persiraja Banda Aceh resmi mendatangkan empat pemain baru menjelang bergulirnya babak …